Illegal Fishing
Karta Jaya | 11/04/2011 | |
Masalah perikana tangkap yang melanggar hukum atau lebih dikenal dengan istilah Illegal Fishing
sebenarnya sudah menjadi masalah klasik. Mengapa dikatakan klasik?
karena masalah ini telah ada dari zaman dulu yang seakan-akan tidak ada
habisnya. Hingga sekarang pun Illegal Fishing masih sulit untuk
di berantas. Berita penangkapan kapal asing oleh patroli kita,
akhir-akhir ini sering terdengar. Akan tetapi tetap masih saja ada
kapal-kapal asing yang masuk wilayah RI. Atau berita pengeboman ikan
atau berita nelayan kita yang menggunakan Alat Penangkapan Ikan
terlarang.
Sebagaimana yang telah kita ketahui, peran pemerintah dalam menjaga perairan di wilayah perbatasan sangat terbatas, bahkan
dapat dikatakan minim baik dalam hal trasportasi seperti kapal-kapal
patroli maupun dalam hal jumlah ankatan laut maritim yang siaga
berpatroli. Bayangkan saja jika kapal patroli kita, ataupun kapal
penangkap ikan kita yang umumnya berukuran kecil dan tradisional, harus
berhadapan dengan kapal asing yang berukuran lebih besar dan modern
serta dalam jumlah yang lebih banyak.
Masalah illegal
fishing adalah masalah kita bersama. Masalah tersebut tidak akan dapat
teratasi jika kita tidak berbenah diri. Salah satu cara untuk
mengatasinya yaitu mungkin dengan menambah armada kapal patroli kita,
supaya kapal-kapal asing yang masuk ke wilayah perairan kita yang
melakukan illegal fishing bisa ditangkap ataupun bisa dihancurkan kapal
mereka.
Mengapa
harus demikian? Karena masalah illegal fishing menimbulkan kerugian
yang amat sangat besar bagi Bangsa dan Negara Indonesia. Berapa
Triliunkah uang kita dicuri oleh Negara lain? Berapa banyak sumberdaya
alam kita dihancurkan dan dicuri oleh Negara lain?
Sebagai
negara maritim, Indonesia menyimpan potensi kekayaan sumber daya
kelautan yang belum dieksplorasi dan dieksploitasi secara optimal,
bahkan sebagian belum diketahui potensi yang sebenarnya untuk itu perlu
data yang lengkap, akurat sehingga laut sebagai sumber daya alternatif
yang dapat diperhitungkan pada masa mendatang akan semakin berkembang.
Dengan luas wilayah maritim Indonesia yang diperkirakan mencapai 5,8
juta km2 dan dengan kekayaan terkandung di dalamnya yang meliputi :
- Kehidupan sekitar 28.000 spesies flora, 350 spesies fauna dan 110.000 spesies mikroba,
- 600 spesies terumbu karang dan 40 genera, jauh lebih kaya dibandingkan Laut Merah yang hanya memiliki sekitar 40 spesies dari 7 genera,
- Sumberdaya yang dapat diperbaharui (renewable resources), termasuk ikan, udang, moluska, kerang mutiara, kepiting, rumput laut, mangrove/hutan bakau, hewan karang dan biota laut lainnya,
- Sumberdaya yang tidak dapat diperbaharui (non renewable resources), seperti minyak bumi, gas alam, bauksit, timah, bijih besi, mangan, fosfor dan mineral lainnya,
- Energi kelautan seperti : Energi gelombang, pasang surut, angin, dan Ocean Thermal Energy Conversion,
- Jasa lingkungan (environmental services) termasuk tempat-tempat yang cocok untuk lokasi pariwisata dan rekreasi seperti pantai yang indah, perairan berterumbu karang yang kaya ragam biota karang, media transportasi dan komunikasi, pengatur iklim dan penampung limbah,
- Sudah terbangunnya titik-titik dasar di sepanjang pantai pada posisi terluar dari pulau-pulau terdepan sebagai titik-titik untuk menarik garis pangkal darimana pengukuran batas laut berpangkal.
- Sudah terwujudnya beberapa kesepakatan/pejanjian batas laut yaitu : dengan India, Thailand, Malaysia, Singapura, Filipina, Australia dan PNG.
Sejumlah
potensi tersebut di atas merupakan sumberdaya yang sangat potensial
dikelola, untuk kesejahteraan rakyat. Di era krisis ekonomi yang masih
belum dapat diatasi sepenuhnya hingga saat ini, seharusnya potensi laut
yang besar tersebut menjadi solusi. Namun karena selama ini kita telalu
fokus kepada sumberdaya yang ada di darat, maka sumberdaya laut yang
besar menjadi tersia-siakan. Keadaan inilah yang memberikan peluang
kepada bangsa-bangsa lain untuk mengeksploitasi laut kita dengan leluasa
yang salah satunya dengan illegal fishing.
Kendala Kelautan
Disadari bahwa penanganan bidang kelautan di Indonesia hingga saat ini masih memprihatinkan, antara lain.
- Kehancuran sebagian terumbu karang yang memilili fungsi ekologi dan ekonomi yang hanya menyisakan sekitar 28%, rawa pantai dan hutan mangrove (bakau) yang merupakan habitat ikan dan penyekat abrasi laut, dari 4 (empat) jutaan hektar telah menyusut menjadi 2 (dua) jutaan hektar.
- Pencurian ikan oleh orang asing menunjukkan kerugian sekitar 1/2 (setengah) milyar dollar sampai 4 (empat) milyar dollar per tahun,
- Sumberdaya manusia (SDM) di bidang kelautan yang sangat minim baik di bidang perencanaan, pengelolaan, maupun hukum dan pengamanan kelautan,
- Sebagian besar (85%) kapal-kapal yang beroperasi di perairan Indonesia menggunakan modal asing dan selebihnya adalah modal nasional. Hal ini juga berdampak pada sekitar 50% pelayaran antar pulau dikuasai oleh pihak asing,
- Minimnya jumlah dan kualitas sarana dan prasarana (kapal, peralatan) menyebabkan seringkali aparat keamanan laut (Kamla) kita tidak berdaya menghadapi kapal-kapal pencuri ikan, sehingga hanya sebagian kecil yang dapat ditangkap,
- Pemanfaatan teknologi maju melalui pengamatan satelit dalam rangka pengawasan dan pengamanan laut (Waspam) masih sangat terbatas dan belum terintegrasi secara permanen,
- Eksplorasi, eksploitasi dan pembangunan di sepanjang pantai dan perairan telah menyebabkan pencemaran laut akibat pembuangan limbah dari proses kegiatan tersebut di atas, sehingga telah mendegradasi habitat pesisir dan laut,
- Maraknya kasus pembajakan laut khususnya di Selat Malaka dan alur lintas kepulauan Indonesia (ALKI) telah menimbulkan konflik yang mengundang intervensi negara maju (USA dan Jepang).
![]() |
Penangkapan yang berlebihan |
Faktor-faktor lain yang berpengaruhi:
a.
Lepasnya P. Sipadan dan P. Ligitan dari klaim wilayah kita ke tangan
Malaysia memberikan pelajaran berharga guna mewaspadai pulau-pulau kecil
yang ada di zona perbatasan dan memberikan kesadaranbagi kita semua
tentang pentingnya pembinaan atas pulau-pulau tersebut,
b.
Kondisi faktual, banyak WNI penduduk wilayah perbatasan lebih banyak
berhubungan dengan warga negara tetangga/asing yang lebih maju, mereka
menggunakan uang asing, menonton TV asing, mendengarkan radio asing dan
menggunakan bahasa. asing (bahasa negara tetangga). Contoh, penduduk P.
Sebatik (Indonesia-Malaysia), Kep. Sangir & Talaud dan P. Miangas
(Indonesia-Filipina). Dengan demikian secara tidak sengaja penduduk
perbatasan sudah terbina dan terkooptasi oleh pengaruh negara tetangga,
sementara itu pembinaan dari pemerintah terhadap mereka sangat minim,
c.
Adanya batas yang sangat panjang dan khususnya alur laut (ALKI) yang
tidak dapat diawasi secara memadai karena keterbatasan aparat, sarana
dan prasarana. Waspam laut banyak dimanfaatkan sebagai alur perlintasan
kriminal seperti penyelundupan barang ilegal (illegal logging/
fishing/imigrants), pengungsi, trafficking dan akhir-akhir ini terorisme
Internasional
d.
Keadaan ekonomi negara dan rakyat (khususnya nelayan) yang masih sulit
menyebabkan kepedulian dan kemampuan terhadap pengelolaan dan Waspam
laut sangat rendah,
e.
Adanya pertentangan internal dalam negeri, antar kelompok etnis,
agama, ras dan. golongan (SARA) atau pemerintahan daerah (Pemda)
memberikan celah-celah bagi elemen asing yang bertujuan negatif dengan
mengintervensi dan mengeksploitasi permasalahan SARA tersebut.
- Batas Perairan Pedalaman (BPP). Perairan pedalaman di dalam garis batas yang ditentukan oleh hukum yang berlaku di situ praktis sama dengan di wilayah darat, dimana NKRI mempunyai kedaulatan penuh, kapal-kapal asing tidak berhak lewat. Perairan pedalaman tersebut dibatasi oleh garis penutup (closing lines) sesuai ketentuan Hukla 1982. Namun sayang Indonesia hingga saat ini belum memanfaatkan haknya untuk menarik closing lines tersebut.
- Batas Perairan Nusantara/Kepulauan (BPN/BPK). Di perairan ini Indonesia mempunyai hak kedaulatan wilayah penuh tetapi kapal/pelayaran asing masih mempunyai “hak melintas” (innocent passage) melalui prinsip alur laut kepulauan. Perairan nusantara ini dikelilingi oleh garis-garis dasar yang lurus (base lines) yang menghubungkan titik-titik pangkal (base points) dan bagian terdepan pulau-pulau terdepan di seluruh Indonesia. Base lines yang menghubungkan base points dibuat berdasarkan UU Nomor 4 Tahun 1960 dan telah didepositkan di PBB. Undang-undang tersebut telah diperbaharui dengan UU Nomor 6 Tahun 1996 namun isinya justru mencabut base points dan base lines yang telah ada.
- Batas Laut Wilayah (BLW). Batas laut ini ditarik dari base lines sejauh 12 mil, tetapi BLW yang pasti/tegas juga belum ada, karena BLW tidak dapat ditentukan sepihak. Pada laut wilayah, Indonesia masih mempunyai hak mengelola dan yurisdiksi kedaulatan wilayah penuh.
- Batas Perairan Zona Tambahan (BPZT). Garis BPZT ini ditarik 12 mil dari garis BLW. Karena BLW nya belum pasti, maka BPZT nya juga belum dibuat.
- Batas Zona Ekonomi Eksklusif (BZEE). Garis BZEE ditarik sejauh/selebar 200 mil dari base lines. Di perairan ZEE ini, Indonesia mempunyai hak berdaulat atas kekayaan alam di situ dan kewenangan melindungi lingkungan, mengatur penelitian ilmiah maritim dan pemberian ijin kepada pihak asing yang akan melakukan penelitian ilmiah dan atau mendirikan bangunan (instalasi, pulau buatan). BZEE juga belum memiliki keabsahan/pengakuan yang pasti.
Batas Landas
Kontinen (BLK). Landas Kontinen adalah ujung kaki benua atau lanjutan
daratan yang tenggelam, garis BLK ditarik dari landas kontinen secara
verfikal (di permukaan laut) sampai 200 mil dari base lines atau
maksimal 350 mil dari base lines.
Pengertian Perikanan Ilegal
Perikanan
ilegal saat ini telah menjadi perhatian dunia, termasuk FAO (Food and
Agriculture Organization). Lembaga ini menggunakan beberapa terminologi
seperti perikanan illegal (ilegal), unreported (tidak dilaporkan) dan
unregulated (tidak diatur) atau biasa disingkat dengan IUU fishing.
Penjelasan mengenai ketiga terminologi ini adalah sebagai berikut:
![]() |
Kapal asing yang memasuki perairan Indonesia |
- Penggunaan alat tangkap yang merusak seperti trawl, bom, dan bius.
- Pelanggaran wilayah tangkap.
- Kesalahan dalam pelaporannya (misreported).
- Pelaporan yang tidak semestinya (under reported).
Situasi Perikanan Nasional
Publikasi
FAO tahun 2007 menggambarkan bahwa kondisi sumberdaya ikan di sekitar
perairan Indonesia, terutama di sekitar perairan Samudera Hindia dan
Samudera Pasifik sudah menujukan kondisi full exploited. Bahkan di
perairan Samudera Hindia kondisinya cenderung mengarah kepada
overexploited. Artinya bahwa di kedua perairan tersebut, sudah tidak
memungkinkan lagi untuk dilakukan ekspansi penangkapan ikan secara
besar-besaran saat ini.
1. Produksi Perikanan Nasional
Pertumbuhan
produksi rata-rata perikanan tangkap dalam periode tahun 1994-2004
mencapai 3,84 persen per tahun. Sedangkan produksi perikanan tangkap
pada tahun 2004 mencapai 4.311.564 ton. Apabila pemerintah menargetkan
pertumbuhan produksi perikanan tangkap tetap sebesar 3,84 persen per
tahun,
maka produksi perikanan tangkap nasional tahun 2009 akan mengalami full exploitation diseluruh perairan Indonesia.
2. Konsumsi Ikan Nasional
Tingkat
konsumsi ikan masyarakat Indonesia setiap tahunnya terlihat mengalami
peningkatan. Secara nasional tingkat konsumsi ikan nasional pada tahun
2002 baru mencapai sekitar 21 kg/kapita/tahun. Namun demikian tingkat
konsumsi ikan nasional tersebut terlihat masih di atas rata-rata tingkat
konsumsi ikan dunia yang baru mencapai sekitar 16 kg/kapita/tahun.
Sementara itu jika dilihat dari perkembangan tingkat konsumsi ikan
nasional berdasarkan jenis ikan yang dikonsumsi masyarakat, terlihat
bahwa sekitar 65,98 persen dari total konsumsi ikan nasional tahun 2002
didominasi oleh 18 jenis ikan. Yaitu ekor kuning, tuna, tenggiri,
selar, kembung, teri, banding, gabus, kakap, mujair, mas, lele,
baronang, udang segar, cumi-cumi segar, kepiting, kalong dan udang
olahan.
Dari
18 jenis ikan yang dominan tersebut terlihat bahwa ikan tuna, selar dan
kembung merupakan jenis ikan yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat
Indonesia. Data Hasil Survey Sosial Ekonomi Nasional (Susenas)
menunjukan, bahwa rata-rata tingkat konsumsi untuk ketiga jenis ikan
tersebut pada periode 1996-2002 adalah mencapai 3,08 kg/kapita/tahun
(Ikan Tuna). Atau sekitar 14,65 persen dari total tingkat konsumsi ikan
nasional tahun 2002, 2,48 kg/kapita/tahun (Ikan Kembung). Sekitar 11,81
persen dari total tingkat konsumsi ikan nasional tahun 2002 dan 1,05
kg/kapita/tahun (Ikan Selar) atau sekitar 4,98 persen dari total tingkat
konsumsi ikan nasional tahun 2002.
Kondisi
terkini, gerakan gemar makan ikan yang di kampanyekan oleh Departemen
Kelautan dan Perikanan (DKP) telah berkontribusi dalam meningkatkan
angka konsumsi perikanan perkapita, dari sekitar 17 kg/kapita/
tahun
di tahun 1998, menjadi sekitar 26 kg/kapita/tahun dalam kurun waktu
2-3 tahun terakhir. Tentu saja, meningkatnya konsumsi perkapita akan
berkorelasi positif dengan pertumbuhan volume kebutuhan ikan domestik,
sejalan dengan pertumbuhan penduduk rata-rata nasional yang berkisar
1,34 persen per tahun-nya (Damanik, 2007b)
Praktek Perikanan Ilegal
Sampai saat ini, belum ada perhitungan pasti jumlah ikan yang terangkut dari perairan Indonesia secara illegal setiap tahunnya. FAO
(2001) memperkirakan kerugian Indonesia dari perikanan ilegal tersebut
mencapai sekitar US$ 4 milyar. Menteri Kelautan dan Perikanan RI,
Freddy Numbery, mengakui bahwa akibat aktivitas perikanan ilegal,
negara dirugikan Rp 30 triliyun setiap tahunnya. Perkembangan
harga ikan rata-rata setiap tahunnya berkisar antara US$ 1.000 sampai
US$ 2.000 per ton ikan. Dengan asumsi harga ikan rata-rata sebesar US$
1.000
per ton, diperkirakan jumlah ikan yang dicuri mencapai sekitar 4 juta
ton per tahun. Sementara itu apabila harga ikan rata-rata diasumsikan
sekitar US$
2.000
per ton maka jumlah ikan yang dicuri tersebut mencapai kisaran 2 juta
ton per tahun. Terlebih lagi, apabila diasumsikan rata-rata tonase
kapal ilegal yang
menangkap
ikan di perairan Indonesia mencapai 200 ton dan setiap tahunnya
melakukan 4 kali trip penangkapan, maka jumlah kapal ilegal mencapai
sekitar 2.500 sampai dengan 5.000 kapal per tahun. Hingga kini
pemberantasan praktek perikanan illegal belum juga menunjukkan
tanda-tanda yang menggembirakan, bahkan semakin memprihatinkan. Salah
satu buktinya, Maret 2006 lalu hasil verifikasi Direktorat Jenderal
Perikanan Tangkap DKP menunjukkan 94 persen tanda peralihan kepemilikan
kapal (deletion certificate) yang berhasil diklarifikasi adalah palsu.
Lebih buruk lagi, pada semester pertama 2007 (Januari – Juni), puluhan
kapal dari berbagai negara telah ditemukan kembali melakukan praktek
pencurian ikan di perairan Indonesia. Praktek perikanan ilegal di
Indonesia yang diungkap oleh media massa antara tahun 2002 hingga 2007,
menunjukkan semakin beragam dan semakin luas wilayah Indonesia yang
“disantroni” oleh kegiatan perikanan ilegal.
Perikanan
ilegal tersebut mencakup pencurian ikan, yaitu kapal asing menangkap
ikan di Indonesia dan tidak memiliki izin atau tidak memiliki dokumen
keimigrasian perikanan yang tidak diatur, karena melanggar peraturan
perundangan
yang telah ditetapkan seperti menggunakan alat tangkap trawl, bom,
atau memasuki wilayah tangkap yang tidak sesuai dengan izin yang telah
diberikan; serta perikanan yang tidak dilaporkan, karena memuat dan
memindahkan ikan di tengah laut atau menjual ikan dijual ke negara lain,
atau kegiatan lain yang menyebabkan tangkapan ikan tersebut tidak
dilaporkan.
Jumlah
kegiatan perikanan ilegal begitu fantastis. Pada tahun 2003, DKP
menduga terdapat sekitar 5.000 kapal asing yang tidak memiliki izin
beroperasi di perairan Indonesia, yang kemudian berhasil ditertibkan
hingga 4.000 kapal asing melalui perizinan (Media Indonesia, 31 Desember
2003). Namun demikian, kenyataan di lapangan menunjukkan perikanan ilegal terus terjadi dari
tahun ke tahun.
Kapal
asing yang melakukan kegiatan perikanan ilegal biasanya melangsungkan
operasinya di wilayah perbatasan dan perairan internasional, antara
lain:
1. Perairan Timur Indonesia, seperti:
a) Perairan Papua (Sorong, Teluk Bintuni, Fakfak, Kaimana, Merauke, Perairan Arafuru)
b) Laut Maluku, Laut Halmahera
c) Perairan Tual
d) Laut Sulawesi
e) Samudra Pasifik
f) Perairan Indonesia-Australia
g) Perairan Kalimantan Timur
2. Perairan Barat Indonesia, seperti:
a) Perairan Kalimantan bagian Utara, daerah Laut Cina Selatan
b) Perairan Nanggroe Aceh Darussalam (NAD)
c) Selat Malaka
d) Sumatera Utara (Perairan Pandan, Teluk Sibolga)
e Selat Karimata, Perairan Pulau Tambelan (Perairan antara Riau dan Kalimantan Barat)
f) Laut Natuna (Perairan Laut Tiongkok Selatan)
g) Perairan Pulau Gosong Niger (Kalimantan Barat)
Dampak Perikanan Ilegal
Maraknya
perikanan ilegal di perairan Indonesia berdampak terhadap stok ikan
nasional dan global. Hal ini juga menyebabkan keterpurukan ekonomi
nasional dan meningkatnya permasalahan sosial di masyarakat perikanan
Indonesia.
Sedikitnya
terdapat sepuluh masalah pokok dari aktivitas perikanan ilegal yang
telah memberi dampak serius bagi Indonesia. Pertama, perikanan ilegal
di perairan Indonesia akan mengancam kelestarian stok ikan nasional
bahkan dunia. Praktek perikanan yang tidak dilaporkan atau laporannya
salah (misreported), atau laporannya di bawah standar (under reported),
dan praktek perikanan yang tidak diatur (unregulated) akan menimbulkan
masalah akurasi data tentang stok ikan yang tersedia. Jika
data stok ikan tidak akurat, hampir dipastikan pengelolaan perikanan
tidak akan tepat dan akan mengancam kelestarian stok ikan nasional dan
global. Hal ini dapat dikategorikan melakukan praktek IUU fishing.
Dengan kata lain, jika pemerintah Indonesia tidak serius untuk
mengantisipasi dan mereduksi kegiatan IUU diperairan Indonesia, maka
dengan sendirinya Indonesia “terkesan” memfasilitasi kegiatan IUU, dan
terbuka kemungkinan untuk mendapat sanksi internasional.
Kedua,
perikanan ilegal di perairan Indonesia akan mengurangi kontribusi
perikanan tangkap di wilayah ZEEI atau laut lepas kepada ekonomi
nasional (PDB). Disamping juga mendorong hilangnya rente sumberdaya
perikanan yang seharusnya dinikmati oleh Indonesia. Pemerintah mengklaim
bahwa kerugian dari praktek perikanan ilegal mencapai US$ 4 milyar per
tahun. Jika diasumsikan harga ikan ilegal berkisar antara US$
1.000-2.000 per ton maka setiap tahunnya Indonesia kehilangan sekitar
2-4 juta ton ikan. Perhitungan lain menyebutkan, bahwa total kerugian
negara akibat perikanan ilegal mencapai US$ 1,924 miliar per tahun.
Angka ini terdiri dari pelanggaran daerah operasi sebesar US$ 537,75
juta; dokumen palsu US$ 142,5 juta kapal tanpa dokumen atau liar US$ 1,2
juta dan penggunaan ABK asing US$ 780 juta.
Ketiga,
perikanan ilegal mendorong ke arah penurunan tenaga kerja pada sektor
perikanan nasional, seperti usaha pengumpulan dan pengolahan ikan.
Apabila hal ini tidak secepatnya diselesaikan maka akan mengurangi
peluang generasi muda nelayan untuk mengambil bagian dalam usaha
penangkapan ikan.
Keempat,
perikanan ilegal akan mengurangi peran tempat pendaratan ikan nasional
(pelabuhan perikanan nasional) dan penerimaan uang pandu pelabuhan.
Karena kapal penangkapan ikan ilegal umumnya tidak mendaratkan ikan
hasil tangkapannya di pelabuhan perikanan nasional. Hal ini akan
berdampak secara nyata terhadap berkurangnya pendapatan nasional dari
sektor perikanan.
Kelima,
perikanan ilegal akan mengurangi pendapatan dari jasa dan pajak dari
operasi yang sah. Perikanan ilegal akan mengurangi sumberdaya perikanan,
yang pada gilirannya akan mengurangi pendapatan dari perusahaan yang
memiliki izin penangkapan yang sah.
Keenam,
baik secara langsung maupun tidak langsung, multiplier effects dari
perikanan ilegal memilikib hubungan dengan penangkapan ikan nasional.
Karena aktivitas penangkapan ikan nasional akan otomotis berkurang
sejalan dengan hilangnya potensi sumberdaya ikan akibat aktivitas
perikanan ilegal. Apabila potensi ikan yang dicuri dapat dijala oleh
armada perikanan nasional, maka sedikitnya dapat menjamin bahan baku
yang cukup bagi industri pengolahan hasil perikanan, misalnya
pengalengan tuna. Pada umumnya ikan yang dicuri dari perairan Indonesia
adalah ikan tuna dan ikan pelagis besar lainnya. Jika setiap industri
pengalengan ikan tuna memerlukan bahan baku minimal 80-100 ton per hari
atau sekitar 28.000-36.000 ton per tahun, maka ikan yang dicuri
tersebut sedikitnya dapat menghidupi 42 industri pengalengan ikan tuna
nasional.
Ketujuh,
perikanan ilegal akan berdampak pada kerusakan ekosistem, akibat
hilangnya nilai dari kawasan pantai, misalnya udang yang dekat ke
wilayah penangkapan ikan pantai dan dari area bakau yang boleh jadi
dirusak oleh perikanan ilegal. Selanjutnya akan berdampak pada
pengurangan pendapatan untuk masyarakat yang melakukan penangkapan ikan
di wilayah pantai.
Kedelapan,
perikanan ilegal akan meningkatkan konflik dengan armada nelayan
tradisional. Maraknya perikanan ilegal mengganggu keamanan nelayan
Indonesia khususnya nelayan tradisional dalam menangkap ikan di perairan
Indonesia. Nelayan asing selain melakukan penangkapan secara ilegal,
mereka juga sering menembaki nelayan tradisional yang sedang melakukan
penangkapan ikan di daerah penangkapan (fishing ground) yang sama.
Selain itu perikanan illegal juga akan mendorong ke arah pengurangan
pendapatan rumah tangga nelayan dan selanjutnya akan memperburuk situasi
kemiskinan.
Kesembilan,
perikanan ilegal berdampak negatif pada stok ikan dan ketersediaan
ikan, yang merupakan sumber protein penting bagi Indonesia. Pengurangan
ketersediaan ikan pada pasar lokal akan mengurangi ketersediaan protein
dan keamanan makanan nasional. Hal ini akan meningkatkan risiko
kekurangan gizi dalam masyarakat, dan berdampak pada rencana pemerintah
untuk meningkatkan nilai konsumsi ikan.
Kesepuluh,
perikanan ilegal akan berdampak negative pada isu kesetaraan gender
dalam penangkapan ikan dan pengolahan serta pemasaran hasil penangkapan
ikan. Fakta di beberapa daerah menunjukkan bahwa istri nelayan memiliki
peranan penting dalam aktivitasb penangkapan ikan di pantai dan
pengolahan hasil tangkapan, termasuk untuk urusan pemasaran hasil
perikanan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar